Pemukiman Nenek Moyang Orang Kerinci



Nenek Moyang orang Kerinci selalu membuat pemukiman pada daerah2 yang subur, yang sering disebut ; talang, dusun, koto. Perkembangan pemukiman ini diperkirakan terjadi pada zaman SUGINDO. Pada masa Sugindo perkembangan kehidupan masyarakat sudah jauh lebih maju, mereka sudah mulai hidup menetap.
Mengacu pada tempat penemuan benda2 peninggalan sejarah, maka diketahui pemukiman2 yang pernah dibuat nenek moyang pada zaman dulu diantaranya terletak di:

1. Disekitar Gunung Masurai, Danau Depati Empat (Danau Besar), Danau Pauh. Diperkirakan daerah2 ini merupakan Lokasi Dusun Purba; Renah Punti, Talang Menggala, Muara Penon, Durian Tinggi dan Sungai Kuyung. Kelima Dusun itu diperkirakan berada disekitar daerah Serampas dan Sungai Tenang Kecamatan Jangkat. dan disekitar daerah itu diperkirakan juga terdapat Dusun Purba Koto Mutun, Renah Lipai Tuo, Pelegai Panjang, yang berada dalam Kecamatan Muara Siau.
2. Disebelah Selatan Danau Kerinci sekitar Dusun Muak sekarang, terdapat Dusun Purba Jerangkang Tinggi.
3. Disebelah tepi Barat Danau Kerinci sekitar Dusun Jujun dan Benik sekarang.
4. Di dataran Tinggi diatas kota Sungai Penuh, diantara Bukit Mejid dan Bukit Koto Tinggi, disekitar daerah Koto Pandan sekarang.
5. Disekitar perbukitan diatas Dusun Kumun sekarang
6. Disekitar perbukitan diatas Sungai Liuk, diperkirakan tempat dusun purba Koto Bingin
7. Disekitar perbukitan diatas Simpang Belui dan Semurup, diperkirakan tempat dusun purba Koto Limausering.
8. Disekitar Dusun Hiang diperkirakan terdapat dusun purba Koto Jelatang.

Lokasi Dusun Purba telah tumbuh banyak dusun yang terbentuk secara bertahap dalam selang waktu yang cukup lama, sebagai contoh :

1. Dari Dusun Purba JERANGKANG TINGGI melahirkan Dusun Pulau Sangkar, Sanggaran Agung, Jujun, Pulau Tengah, Siulak Mukai dan Pengasi.
2. Dari Dusun Pulau sangkar kemudian pindah ke utara melahirkan Dusun Lekuk 33 Tumbi yang kemudian berubah nama menjadi Dusun Terutung. sebagian berpindah ke arah barat melahirkan dusun Lekuk 50 Tumbi atau Dusun Lempur sekarang. Dari dusun Pulau sangkar melahirkan Dusun Pondok, Muak, Lolo, Lubuk Paku, Keluru, Semerap.
3. Dari Dusun Sanggaran Agung berkembang menjadi Dusun Tanjung Pauh Mudik, Pondok Siguang, Tanjung Pauh Hilir, Talang Kemulun.
4. Dari dusun Pengasi berkembang menjadi Dusun Pulau Pandan, Pendung Talang Genting,, Tebing Tinggi, Seleman, Tanjung Batu, Pidung. Untuk Seleman sebagian penduduknya berasal dari Dusun Purba Koto Jelatang.
5. Dari Dusun Pulau Tengah berkembang menjadi Dusun Koto Tuo dan Koto Dian.
6. Dari Dusun Jujun berkembang menjadi Dusun Benik.
7. Dari Dusun Siulak Mukai di Tanah Sekudung, berkembang menjadi Dusun Mukai Mudik, Mukai Tengah, Mukai Ilir, Siulak Gedang, Siulak Panjang, Lubuk Nagodang, Siulak Kecik, Siulak Tenang, Tanjung Genting, Koto Kapeh, Sungai Pegeh, Dusun Baru, Sungai Labu.

Kapak Batu Berusia 10 Ribu Tahun


JIKA sudah jatuh cinta, maka harta dan benda tidak lagi dihitung berapa nilainya. Hal itulah yang dirasakan oleh Iskandar Zakaria, seorang kolektor yang juga merupakan budayawan kawakan yang ada di Kerinci. Ia rela menghabiskan sebagian besar gaji dan uang pensiunnya, hanya sekadar untuk mengumpulkan barang antik kesukaannya.

Hobi ini mulai digelutinya sejak tahun 1970, saat ia masih menjabat sebagai Kepala Kebudayaan Kabupaten Kerinci. Koleksi pertamanya saat itu adalah dua mangkuk kuno, peninggalan nenek moyang warga Kerinci.

"Setelah dua mangkuk tersebut saya koleksi, akhirnya menyusul beberapa barang antik lainnya, yang saya dapatkan dari berbagai daerah di Kabupaten Kerinci, dan daerah-daerah lainnya," ujar Iskandar Zakaria, saat ditemui Tribun, Rabu (19/5).

Untuk bisa menjalankan hobinya tersebut, ia mendapat restu dari istrinya, Zanidar, yang rela uangnya dihabiskan untuk hobi suaminya tersebut. "Saya sangat mendukung hobi suami saya. Kalau orang lain pensiun bisa naik haji, namun uang pensiun kami dihabiskan disini. Kalau saya tidak dukung bapak mau cari uang dimana," kata Zanidar.

Ada ratusan jenis barang antik koleksinya, mulai dari keramik-keramik kuno, peninggalan pra sejarah, benda-benda seni, dan berbagai barang antik lainnya. "Semua barang antik saya koleksi. Saya tidak pilah-pilih untuk melengkapi koleksi," kata Iskandar Zakaria.

Menariknya, barang antik tersebut dikumpulkannya bukan untuk dijual, namun hanya untuk koleksi pribadi. Bahkan, saking besar kecintaannya terhadap barang antik, ia pernah menolak tawaran Rp 25 miliar dari kolektor yang ingin membeli barang antik koleksinya.

"Beberapa tahun yang lalu, koleksi saya pernah ditawar 25 miliar oleh Antoni Zedra Abidin, yang saat itu masih menjabat sebagai wakil Gubernut Jambi. Namun tawaran itu saya tolak," jelas Iskandar Zakaria, yang pernah masuk rekor Muri, sebagai penulis Alqur'an terpanjang d idunia.

Tidak hanya itu, beberapa benda keramik yang berasal dari Dinasti Ming dan Dinasti Tsung pada abad ke delapan miliknya, juga pernah ditawar oleh beberapa kolektor barang antik yang datang dari berbagai kota bahkan dari mancanegara, diantaranya adalah kolektor asal Pekanbaru yang menawar keramik seharga 10 miliar.

"Seminggu yang lalu, juga datang kolektor dari medan, H Rusli Asmadi. Beliau ingin membeli benda keramik peninggalan dinasti tua di Cina. Jika saya jual, negara jelas rugi, karena barang-barang ini merupakan peninggalan sejarah," ungkapnya.

Meskipun hidup pas-pasan, namun Iskandar Zakaria tetap memiliki komitmen yang kuat untuk melestarikan peninggalan nenek moyang. "Jika saya lebih tertarik dengan uang, mungkin saya adalah orang yang paling kaya di Kabupaten Kerici," ungkap Iskandar Zakaria.

Benda-benda antik tersebut didapatkannya dengan berbagai cara, ada yang dibelinya langsung, diberi rekan-rekannya, dan dicariinya ke beberapa bukit yang ada di Kerinci. "Jika saya dapat informasi, saya langsung mendatangi lokasi yang dimaksud. Jika beruntung, maka koleksi benda antik saya akan bertambah," tambahnya.

Benda antik koleksinya yang tertua adalah kapak batu, yang diperkirakan sudah ada sejak 7000 tahun sebelum masehi. Hal tersebut juga dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Profesor Sujono, dari pusat penelitian arkeologi Jakarta.

"Diperkirakan saat ini kapak itu berusia sekitar 10.000 tahun, yang saya temukan di Batang kandil, Kecamatan gunung kerinci. Batu itu saat ditemukan, sudah terkubur dalam tanah," terangnya.